20 September, 2007

BAZNAS : Pusat Zakat Indonesia


Mungkinkah di Indonesia hanya ada lembaga zakat
tunggal yang mengelola zakat seperti di beberapa
negara di Timur Tengah ? Jawabnya tentu saja mungkin.
Bahkan sebagian kita menjawabnya bukan hanya
"mungkin", tapi barangkali : "Harus !" Memiliki
Keinginan seperti itu tentu tidak salah, karena memang
sejak zaman Nabi dan para sahabat, pengelolaan zakat
memang dilakukan oleh satu lembaga saja, yaitu Baitul
Mal. Akan tetapi kalau keinginan tersebut ingin
diwujudkan seketika, yaitu dilakukan hari ini juga,
maka tampaknya kita perlu mencermati situasi dan
kondisinya lebih dahulu. Sebab menerapkan suatu
keinginan, tanpa melihat realitas di lapangan yang
ada, maka itu hanya akan menjadi mimpi atau
halusinasi.

Ada sebagian kita menginginkan agar Badan Amil Zakat
Nasional (BAZNAS) bisa menjadi lembaga tunggal
pengelola zakat di Indonesia. Keinginan ini
dilatarbelakangi oleh fakta bahwa Baznas adalah
organisasi pengelola zakat yang dibentuk atas dasar
Undang-Undang yaitu UU No. 38 Tahun 1999. Juga karena
kepengurusan BAZNAS ditetapkan melalui Keputusan
Presiden No. 8 tahun 2001 (Kemudian direvisi dengan
Keppres No. 103 tahun 2004), dimana dalam Keppres ini
juga disebutkan bahwa Baznas menjadi koordinator
pengelolaan zakat di Indonesia. Baznas diharapkan
dapat mengkoordinasikan sekurang-kurangnya 33 Badan
Amil Zakat (BAZ) tingkat propinsi dan 18 Lembaga Amil
Zakat (LAZ) tingkat Nasional yang sudah dikukuhkan.
Penempatan Baznas sebagai kordinator zakat di
Indonesia juga diharapkan mampu mengoptimalkan potensi
zakat di Indonesia yang jumlahnya diperkirakan
mencapai 19,3 Trilyun. Dimana dalam realisasi zakat
yang dihimpun oleh organisasi pengelola zakat resmi
masih kurang dari Rp 1 Trilyun.

Setelah lebih dari enam tahun beroperasi, ternyata
Baznas yang diharapkan ampuh melaksanakan titah
negara, ternyata masih digelayuti banyak kendala.
Baznas masih menjadi organisasi dengan kapasitas
organisasi sangat terbatas, baik karena perolehan dana
tahunannya masih kecil maupun dari besarnya subsidi
pemerintah (melalui APBN) untuk operasional Baznas
juga sangat terbatas. Dengan keterbatasan kapasitas
ini, maka ruang gerak baznas juga menjadi tidak
leluasa. Kendala lain yang dihadapi Baznas adalah
menyangkut tumpang tindihnya peran yang dimainkan.
Pada satu sisi Baznas ingin kita tempatkan sebagai
koordinator pengelolaan zakat, namun di sisi lain
Baznas juga menjadi operator yang langsung mengelola
zakat. Hal ini membuat Baznas menjadi rikuh di hadapan
lembaga-lembaga pengelola zakat yang hendak diaturnya.

Juga karena kelahiran Baznas yang belakangan
dibandingkan beberapa organisasi pengelola zakat (OPZ)
yang sudah ada sebelumnya. Sebutlah misalnya BAZIS DKI
yang usianya sudah lebih dari 30 tahun, YDSF yang
sudah berusia lebih dari 17 tahun atau Dompet Dhuafa
Republika yang sudah berusia 14 tahun. Pada
kenyataannya, beberapa organisasi pengelola zakat yang
lahir lebih dahulu dari Baznas tersebut telah malang
melintang di dunia zakat dan diterima oleh berbagai
lapisan masyarakat. Sementara Baznas juga tidak segera
menunjukkan kelasnya yang tinggi untuk dapat dipercaya
sepenuhnya oleh masyarakat. Tentu saja akhirnya
membuat Baznas menjadi tidak mudah untuk cepat dapat
diterima sebagai pengatur tunggal.

Upaya Baznas untuk mempercepat peningkatan kapasitas
organisasinya dengan menggandeng Dompet Dhuafa
Republika (DD) melalui kerjasama sinergis juga telah
dipersepsi secara tidak tepat oleh berbagai kalangan.
Ada sebagian kalangan khawatir bahwa kerjasama Baznas
– Dompet Dhuafa akan menjadikan aset dan uang negara
hanya dimanfaatkan oleh DD. Sebagian kalangan lembaga
pengelola zakat juga "merasa" terhambat untuk
melakukan sinergi dengan Baznas, karena adanya
kerjasama Baznas – Dompet Dhuafa. Mereka khawatir
bahwa kerjasama Baznas – Dompet Dhuafa akan membuat
Baznas dimonopoli oleh kepentingan DD. Mekipun Pada
kenyataannya semua itu tentu saja tidak benar.

Menyadari akan tugas besar mengintegrasikan
pengelolaan zakat Indonesia pada masa depan, maka cara
yang paling layak adalah dengan melakukan tahapan
proses guna mewujudkannya. Semua langkah itu harus
disusun secara bertahap dan sistematis dengan
memanfaatkan semua potensi dan sumber daya yang ada.
Harus ada rintisan langkah yang mampu memadukan antara
keinginan dan realitas yang berkembang di dunia zakat.
Semua bentuk hambatan atau rintangan harus disiasati
dengan cara komunikatif, santun, elegan dan tidak
menimbulkan permusuhan atau antipati. Semua tindakan
yang hanya mendasarkan kepada sikap arogan atau
kekuasaan belaka harus dijauhi. Apalagi kalau
cara-cara itu tidak didukung oleh pengetahuan dan
perkembangan dunia zakat yang ada di Indonesia, maka
hal itu harus ditinggalkan.

Salah satu tahapan penting dan strategis saat ini
sekaligus sebagai perbaikan atas sinergi Baznas – DD
adalah menjadikan Baznas sebagai "Pusat Zakat
Indonesia". Apa yang dimaksud dengan Pusat Zakat
Indonesia adalah sebuah fungsi (baca : bukan lembaga)
untuk mengkordinasikan seluruh lembaga zakat di bawah
payung Baznas. Pola koordinasi dilakukan melalui
pewadahan "manajemen perwakilan" yang merupakan
representasi dari kesertaan lembaga zakat yang
terlibat dalam koordinasi.

Fungsi Utama dari Pusat Zakat Indonesia adalah
mengkoordinasikan program pendayagunaan lembaga zakat,
meningkatkan kapasitas Organisasi Pengelola Zakat
(OPZ), Melakukan standarisasi manajemen OPZ, termasuk
juga menjadi pusat data zakat terintegrasi seluruh
Indonesia. Karena Pusat Zakat Indonesia ini lebih
bersifat "directing management", maka fokus
kegiatannya adalah langsung pada optimalisasi
aktifitas guna peningkatan pengelolaan zakat secara
riil (nyata).

Kesediaan dan pengorbanan DD untuk menyertai
"metamorfosis" Baznas untuk mencapai peran puncaknya
adalah bentuk komitmen DD untuk mendukung cita-cita
mulia zakat di Indonesia. Semoga juga selalu ada insan
dan institusi yang mau menyambut kebaikan guna
mewujudkan cita mulia zakat.

____________________________________________________________________________________
Luggage? GPS? Comic books?
Check out fitting gifts for grads at Yahoo! Search
http://search.yahoo.com/search?fr=oni_on_mail&p=graduation+gifts&cs=bz

17 September, 2007

DD Sebagai Organisasi Komunitas


Kalau kita bertanya kenapa DD (Dompet Dhuafa Republika) lahir ? Jawabannya mungkin beragam. Beberapa kemungkinan jawabannya adalah : karena ingin menolong orang yang tidak mampu, meningkatkan kualitas kehidupan umat, memberdayakan masyarakat, melakukan dakwah, mengembangkan model pengelolaan Baitul Mal seperti di zaman Rasul atau mungkin mengembangkan ekonomi syariah. Pilihan apapun dari semua jawaban tersebut mereflesikan Visi dan Misi besar DD, khususnya dalam jangka panjang. Jawaban ini juga menyiratkan nilai-nilai yang dikandung dan mewarnai DD.

Sehingga kalau kita selami lebih lanjut, kenapa DD sekarang bentuknya menjadi LSM, atau Amil Zakat, atau menjadi Jejaring Multi Koridor atau menjadi Grant Making atau entah apa lagi ? Maka jawabnya adalah : semua itu adalah bentuk wadah atau media implementatif dari keinginan mewujudkan Visi, Misi dan nilai-nilai yang dikembangkan DD. Bentuk organisasi hanyalah sarana dalam mengupayakan pencapaian Visi dan Misi.

Yang akan abadi dalam kehidupan DD adalah Nilai, Visi dan Misi, sedangkan bentuk organisasi mungkin akan terus mengalami perubahan. Kesadaran ini sesungguhnya secara mendalam memberi pemahaman kepada kita tentang apa yang harus terus kita perjuangkan dan bagaimana kita mengembangkan nilai-nilai yang akan memandu kita berperilaku, baik sebagai individu maupun sebagai organisasi.

Berkait dengan perkembangan bentuk organisasi, maka kalau kita lihat dari sisi orientasi organisasi, maka DD telah melewati dua fase perkembangan,, yaitu sebagai Organisasi Sosial dan Organisasi Korporat. Organisasi Sosial adalah fase orientasi organisasi yang sangat sederhana, dimana organisasi hanya berorientasi bisa menolong orang lain, mampu berperan membantu masyarakat dan dilakukan dengan sambilan (part time) dalam arti sambil menjalankan fungsi utama organisasi, maka juga sekaligus melaksanakan fungsi sosial. Yang penting masih bisa beramal baik. Umumnya bentuk organisasa sosial juga menjadi bagian atau sayap dari sebuah organisasi lain, seperti perusahaan misalnya. Fase ini pernah dialami DD pada tahap yang sangat awal ketika masih menjadi bagian langsung Harian Republika.

Fase kedua, yaitu fase Organisasi Korporat yaitu fase dimana sebuah organisasi dikelola dengan azas-azas perusahaan modern. Fase ini juga ditandai dengan istilah yang populer dan melembaga, yaitu “profesional”. Dimana setiap orang mengelola organisasi layaknya sebuah perusahaan. Kultur yang dikembangkan pada fase organisasi korporat adalah “Siapa yang memberi sumbangsih besar bagi organisasi, maka ia layak mendapatkan balas jasa yang besar”. Setiap orang terikat dalam pola hubungan “kontrakting” dengan organisasi. Bagi siapapun yang yang sudah tidak memiliki kontribusi secara langsung terhadap organisasi, maka ia layak mundur atau keluar dari organisasi.

Setelah melewati dua fase perkembangan organisasi ini, maka sudah saatnya apabila DD memasuki fase Organisasi Komunitas. Fase ini adalah fase dimana organisasi telah berubah menjadi wadah berhimpunnya manusia karena memiliki Visi, Misi dan Nilai-nilai yang sama. Bersatunya manusia dalam organisasi ini bukan karena terikat “kontrak kerja”, akan tetapi terikat karena idealisme dan perjuangan Visi dan Misi. Alasan sederhananya adalah bahwa untuk memperjuangkan tercapainya Visi dan Misi tidak harus dalam wadah bernama “Amil Zakat” atau “Holding Institution” DD. Pada hakikatnya setiap bentuk kegiatan yang dilakukan dalam rangka mengangkat harkat hidup mustahik dan meningkatkan kualitas hidup umat Islam adalah bagian dari kerja besar DD.

Untuk dapat membayangkan seperti apa bentuk nyata dari Organisasi komunitas ini, maka kita bisa “Benchmarking” pada organisasi parpol. Pada sebuah parpol, komunitas partai itu terbagi tiga, yaitu yang pertama adalah Pengurus (dari mulai DPP sampai DPRa), yang kedua adalah Kader (pendukung inti partai dan yang mengikuti pola pembinaan khusus bersifat reguler) dan yang ketiga adalah Simpatisan, yaitu hanya para pendukung lepas. Kita bisa membayangkan bahwa Amil DD yang sekarang terlibat dalam DD Holding adalah Pengurus. Sementara personil kita pada jejaring, mitra dan mantan Amil DD adalah Kader. Dan masyarakat relawan kita (Caring Community) adalah simpatisan.

Sederhananya adalah, Amil DD yang ada di Holding mendapatkan balas jasa keamilan DD sebagaimana berlaku dan juga mengikuti pola pembinaan khusus. Sedangkan Jejaring, mitra dan mantan Amil DD adalah orang-orang yang memiliki penghasilan sesuai tempatnya beraktifitas mencari nafkah tetapi telah atau sedang mengikuti pembinaan khusus. Sedangkan relawan (Caring Community) hanyalah mendapatkan pembinaan umum serta turut berpartisipasi dalam kegiatan DD.

Inti dari Organisasi Komunitas adalah Nilai yang kemudian diturunkan menjadi Visi dan Misi. Tugas besar organisasi komunitas adalah mengembangkan dan menyebarluaskan nilai-nilai yang dianut organisasi kepada sebanyak mungkin orang (Value Transformation). Untuk selanjutnya siapapun yang telah menganut nilai-nilai tersebut diharapkan untuk mengupayakan perwujudan nilai-nilai tersebut di manapun ia berada, khususnya di lingkungan di mana ia beraktifitas. Wallahu A’lam !

(Tulisan ini pertama kali dibuat 10 Rabiul Awal 1426 / 19 April 2005, tapi sampai sekarang masih relevan untuk kita kaji dan selami)

14 September, 2007

Zakat Untuk Rumah Sehat

Hari ini, akan ada perhelatan penting bagi Baznas Dompet Dhuafa, dan Insya Allah bagi dunia zakat pada umumnya. Karena pada hari ini akan diresmikan Rumah Sehat Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) hasil kerjasama dengan Masjid Sunda Kelapa di Menteng Jakarta Pusat. Mengapa peristiwa ini penting ? Karena peresmian Rumah Sehat LKC ini menjadi salah satu batu pijak dari upaya masyarakat zakat di Indonesia untuk mengimplementasikan pemanfaatan dana zakat untuk memenuhi salah satu kebutuhan dasar masyarakat mustahik, yaitu pemenuhan layanan kesehatan.

Pada masa lalu, zakat selalu dipandang sebelah mata. Perannya hanya dibingkai pada waktu akhir bulan Ramadhan dan digunakan hanya untuk memberikan makanan kepada fakir miskin pada Hari Raya Idul Fitri. Mungkin karena saat itu konsentrasi masyarakat barulah pada zakat fitrah. Sehingga pemanfaatan zakat tidak pernah menyentuh persoalan dasar masyarakat secara luas.

Pada tanggal 5 November 2001, Dompet Dhuafa Republika sudah mengawalinya dengan meresmikan Layanan Kesehatan Cuma-Cuma di daerah Ciputat Tangerang. Klinik semi rumah sakit ini diresmikan oleh Wakil Presiden saat itu, yaitu Hamzah Haz. Saat ini, LKC Ciputat ini telah memiliki anggota lebih dari 50.000 jiwa yang dilayani. Meskipun pada awalnya, sebagian masyarakat ragu, apakah LKC akan mampu terus bertahan melayani masyarakat yang terus bertambah, sementara sumber dananya hanyalah ”ketidakpastian” penerimaan zakat ? Waktu, ternyata membuktikan bahwa bukan hanya mampu bertahan, tetapi LKC malah terus beranak pinak. Dari mulai Klinik LKC di Ciledug, Klinik LKC di Bekasi, Rumah Bersalin Cuma-Cuma di Bandung, dan kini menyusul Rumah Sehat LKC Masjid Sunda Kelapa.

Rumah Sehat LKC Sunda Kelapa akan diresmikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebagai simbol pengakuan bahwa menolong mereka yang kesulitan adalah tanggung jawab semua orang. Peresmian oleh Presiden juga menandai bahwa masalah pengelolaan zakat telah menjadi bagian komitmen pemerintah untuk mendukung dan mengembangkannya. Apalagi meskipun berlokasi di kawasan yang terbilang elit, belum genap satu minggu beroperasi sudah lebih dari 2.500 mustahik terdaftar sebagai anggota. Rupanya di balik kawasan yang terkenal ”sejahtera” tersebut tersimpan potensi orang miskin yang banyak. Ke depan, Rumah Sehat LKC Sunda Kelapa ini akan menjadi media interaksi langsung yang sangat efektif antara kalangan masyarakat berpunya dan masyarakat miskin.

Kami juga sengaja memilih nama Rumah Sehat, bukan Rumah Sakit, karena kami ingin sejak awal ”rumah sakit” ini berorientasi positif dan membangunkan semangat kebaikan. Kita menginginkan orang yang sakit dan paramedis yang menanganinya memiliki motivasi yang kuat untuk mengupayakan menjadi sehat. Karena bukankah setiap kata atau nama yang kita ucapkan juga memiliki pengaruh dalam jiwa kita ? Kami berharap bahwa kehadiran LKC di Masjid Sunda Kelapa akan menjadi bagian dari upaya mewujudkan masyarakat yang sehat, baik jasmani maupun rohani.

Peresmian ini juga sengaja dilakukan pada awal bulan Ramadhan untuk lebih menguatkan pesan kepedulian yang dibawakan. Ramadhan adalah bulan mulia yang di dalamnya penuh dengan ibadah kepada Sang Maha Pencipta, yaitu Allah SWT. Melayani dan menolong orang-orang lemah adalah salah satu bentuk ibadah yang sangat mulia. Bahkan tidak sempurna ibadah Ramadhan kita, manakala tidak mampu menumbuhkan solidaritas sosial kepada mereka yang kekurangan.

Semoga, manakala ada di antara kita ada yang ingin bersedekah, berwakaf atau menunaikan zakat harta, maka melalui sarana seperti Rumah Sehat akan lebih menajamkan pemenuhan ibadah yang tidak semata-mata mengejar pahala berlipat di bulan mulia, akan tetapi juga yang memiliki dimensi pemberian manfaat yang nyata kepada mustahik.

Manakala masyarakat terus memberikan amanah zakat atau dana sosial lain melalui segenap institusi zakat dan dari waktu ke waktu semakin meningkat, maka kami memiliki cita-cita, selain terus mereplikasi klinik-klinik kecil di daerah kumuh atau tertinggal, kamipun bermimpi untuk membangun Rumah Sehat berskala rumah sakit internasional sebagai rumah sakit rujukan yang didedikasikan bagi masyarakat miskin. Dimana seluruh layanannya betul-betul kita gratiskan. Menjadi kewajiban kita semua untuk mengupayakan sekaligus mengawasi agar Rumah Sehat LKC Masjid Sunda Kelapa berjalan baik dan menghias indah lukisan zakat di Indonesia.

31 August, 2007

Surat Untuk Menteri Agama


Semoga Bapak selalu diberikan kesehatan dan bimbingan kebaikan dalam menjalani Aktivitas sehari-hari. Kami tahu betapa banyak tanggung jawab diemban Bapak dalam rangka mengurusi sebagian besar persoalan keagamaan di negeri ini. Mudah-mudahan amanah tersebut dapat ditunaikan Bapak dengan sebaik-baiknya sehingga bukan hanya kualitas kehidupan keagamaan di Indonesia semakin meningkat, tapi juga semua itu akan dicatat sebagai ibadah Bapak yang sangat tinggi nilainya di hadapan Allah SWT .

Kami tahu dan mengamati bahwa salah satu masalah yang menjadi perhatian Bapak adalah masalah zakat. Sebuah ibadah wajib bagi setiap muslim dan menjadi salah satu rukun Islam. Bapak juga telah menunjukkan komitmen yang besar untuk memperbaiki kualitas pengelolaan zakat di Indonesia. Kami berharap bahwa komitmen tersebut terus dipelihara dan diimplementasikan dalam kebijakan dan keputusan guna mengarahkan agar zakat dapat termobilisasi dengan baik untuk selanjutnya dapat didayagunakan untuk kepentingan mustahik seluas-luasnya.

Dimana untuk dapat memobilisasi dana zakat secara optimal, selain harus didukung oleh manajemen kelembagaan yang profesional, juga harus mampu menimbulkan kepercayaan masyarakat yang luas. Untuk itu, maka perbaikan institusi zakat menjadi keperluan yang mendesak. Bukan hanya jumlahnya yang bertambah, akan tetapi yang lebih penting adalah meningkatkan kualitas pengelolaan institusi zakat. Karena bukankah masih banyak institusi zakat yang dikelola oleh orang-orang yang tidak memiliki komitmen, pengetahuan dan keahlian yang cukup untuk mengelola zakat ? Hasilnya Bapak juga sudah mengetahui, institusi tersebut tidak berkembang optimal dan pengurusnya hanya menjadi daftar nama saja.

Padahal pada kenyataannya, fakir miskin dan kalangan mustahik lainnya sudah sangat menantikan sentuhan zakat untuk dapat memperbaiki derajat kehidupan mereka. Sebuah sentuhan yang bukan hanya membagi-bagi uang zakat yang langsung habis, akan tetapi juga yang memiliki nilai manfaat yang nyata. Khususnya dalam rangka memperbaiki kesejahteraan hidup mereka. Dan sayapun berdoa agar setiap kebijakan Bapak dalam bidang zakat yang membuat orang-orang miskin terbantu, maka doa yang mereka ucapkan, kebaikan dan pahalanya akan sampai juga kepada Bapak.

Bapak Menteri yang Insya Allah dimuliakan oleh Allah. Saya yakin Bapak juga sudah memikirkan tentang masa depan zakat di Indonesia. Karena hal ini merupakan masalah penting dalam dunia zakat. Karena kita semua pasti sudah berpikir hendak diarahkan kemana model penanganan zakat di Indonesia ? Kami berharap bahwa Bapak akan mendorong dan mengarahkan agar zakat di Indonesia ini dapat terkelola dengan baik. Meskipun ada banyak institusi zakat, akan tetapi semuanya mampu dijalinkan dalam satu jaringan besar pengelolaan zakat yang satu. Barangkali di sinilah peran Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) dapat dioptimalkan, sehinga bisa menjadi rumah besar yang mampu menaungi seluruh institusi zakat.

Agar dapat menjadi rumah besar yang mampu meneduhi semua institusi zakat, maka selayaknya Baznas juga diisi oleh orang-orang yang mewakili seluruh kepentingan pengelolaan zakat di Indonesia. Dan tentu saja untuk dapat memperkuat citra pengayom bagi seluruh institusi zakat, Baznas juga harus diisi oleh orang-orang yang memiliki integritas, kredibilitas dan kompetensi yang cukup untuk menangani masalah zakat dengan segala permasalahannya. Saya bermimpi, jika hal ini diwujudkan dengan dilakukannya uji kelayakan dan kepatutan secara terbuka bagi pimpinan Baznas, maka sungguh ini jauh lebih baik lagi di mata umat.

Akhirnya saya berharap bahwa Bapak akan senantiasa diberikan “amanah” yang lebih tinggi dan lebih baik dalam rangka melayani rakyat Indonesia. Dan semua amanah itu dapat dilaksanakan dan dipertanggungjawabkan dengan bagus, baik kepada pemberi amanah, terlebih lagi di hadapan Al-Khaliq Pemilik alam semesta ini.

Mohon maaf jika surat ini menggangu kesibukan Bapak dan mohon maaf pula jika ada kata-kata yang tidak berkenan.

22 July, 2007

Kesejahteraan Amil



Amil zakat (pengelola zakat) adalah profesi yang sungguh menyenangkan. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa Amil itu tidak mengenal susah. Waktu masih menganggur, ia berhak mendapatkan dana zakat, karena tergolong fakir miskin. Saat bekerja, ia mendapatkan dana zakat dari hak Amil dan kalau terjadi PHK, kemudian menjadi penganggur, maka ia berhak lagi dapat dana zakat, karena menjadi fakir miskin kembali.

Tetapi menjadi Amil zakat juga sebuah beban. Kalau kelihatan sedikit saja mulai sejahtera, maka Sang Amil akan menjadi “tertuduh”. Bahwa di tengah kemiskinan yang masif di Indonesia, seorang Amil sangat tidak pantas terlihat hidup nyaman. Bahkan banyak masyarakat mengharapkan agar Amil senantiasa hidup prihatin. Kondisi ini selalu menjadi dilema bagi semua Amil.

Standar yang digunakan oleh semua Organisasi Pengelola Zakat (OPZ), untuk membiayai kesejahteraan amil adalah alokasi ashnaf (hak amil) dari harta zakat. Beberapa ahli Fikih zakat menyebutkan bahwa hak amil atas harta zakat adalah 1/8 atau 12,5 % dari keseluruhan total dana yang berhasil dikumpulkan. Tentu saja ada OPZ yang berpandangan bahwa besarnya alokasi untuk Amil tidak harus 12,5 %, karena dasar 12,5 % bukanlah bersandar kepada ayat Al-Quran dan Al-Hadits, akan tetapi hanya ijtihad para ulama.

Bagi sebagian kalangan amil yang berpandangan bahwa merujuk 12,5 % sebagai satu-satunya acuan, maka bagaimanapun kondisi amil atau OPZ, maka 12,5 % harus tetap menjadi dasar pemenuhan kesejahteraan amil. Apabila hal ini dilaksanakan, maka Sang Amil mungkin bisa hidup menderita, karena pada banyak OPZ yang hanya mampu mengumpulkan dana kurang dari 10 juta per bulan, maka 12,5 % untuk menyejahterakan amil, tentu jauh panggang dari api. Apalagi pada OPZ yang baru dirintis atau didirikan, tentulah 12,5 % adalah sebuah angka yang sangat tidak memadai.

Kemungkinan kedua manakala OPZ hanya mengacu kepada dasar 12,5 % untuk kesejahteraan amil adalah amil akan berfoya-foya. Pada beberapa OPZ yang sudah mampu menghimpun dana zakat yang besar dari masyarakat, sementara jumlah amilnya tidak banyak, maka dengan 12,5%, kesejahteraan amilnya akan sangat berlebih. Tentu saja pada akhirnya batas alokasi hak amil 12,5% ini harus diteropong dalam kelayakan, kecukupan dan kewajaran.

Banyak OPZ yang hanya mampu memberikan kesejahteraan kepada amilnya sangat minimalis. Pada kondisi ini banyak amil yang bekerja setengah hati. Bekerja menjadi amil dilakukan sambil menyambi dengan melakukan kegiatan lain dalam rangka mencukupi kehidupan rumah tangga amil. Pada kondisi ini, tidak ada sedikit pun kebanggaan menjadi amil zakat. Bahkan kadang-kadang untuk meningkatkan kesejahteraan, para amil ini berlaku “curang” dengan memanfaatkan alokasi tujuh ashnaf yang lain, baik secara terbuka, maupun dengan cara sembunyi-bunyi.

Tidak sedikit OPZ yang sudah mampu memberikan kesejahteraan memadai kepada amilnya. Penghasilan para amil ini tidak kalah dengan penghasilan pegawai negeri atau beberapa perusahaan swasta. Kesejahteraan yang cukup ini tentu menggembirakan dan membanggakan dunia zakat. Karena hal ini telah membuktikan bahwa profesi amil zakat bukanlah profesi marjinal lagi. Menjadi amil zakat kini bisa menjadi profesi sebagai titik pijak untuk meraih kenyamanan dalam hidup.

Akan tetapi tingkat kesejahteraan memadai yang diperoleh amil haruslah dibarengi dengan sikap kesederhanaan dan rendah hati. Tanpa itu, maka amil zakat akan menjadi angkuh, konsumtif dan demonstratif. Amil zakat seperti ini akan kehilangan makna kepedulian kepada masyarakat miskin yang ada di sekitarnya. Sangatlah mulia apabila amil zakat hidup selalu mawas diri. Meskipun dia mendapatkan penghasilan cukup, akan tetapi ia senantiasa hidup sederhana dan lebih banyak memberikan manfaat dengan membantu kesulitan orang lain.



(Ikuti Polling Kesejahteraan amil di www.amilzakat.blogspot.com)

02 July, 2007

Mantan Preman yang Budiman


Pak Sisco mungkin pada waktu kecil tidak pernah membayangkan bahwa pada suatu hari akan tinggal di Australia. Tumbuh sebagai anak jalanan dan pengamen mengantarkan Pak Sisco menjadi preman di kawasan Blok M Jakarta. Karena terlibat beberapa kali bentrokan dengan preman lainnya, akhirnya Pak Sisco dikejar-kejar oleh sekelompok orang untuk dihabisi nyawanya. Pelariannya dari Blok M Jakarta menuju Surabaya dan kemudian sampai di Bali. Di Pulau Dewata, Pak Sisco bertemu dengan Kathy warga Negara Australia yang kemudian menjadi istri beliau.

Dari pernikahan dengan Bu Kathy inilah yang kemudian mengantarkan Pak Sisco menginjakkan kaki di negeri Koala. Setelah merintis beberapa usaha, akhirnya Pak Sisco mampu membuka usaha restoran di kawasan Prahran, sebuah kawasan bisnis di Melbourne Australia. Restoran itu diberi nama “New Blok M”. Restoran ini kemudian terkenal di kalangan masyarakat Indonesia di Australia, khususnya masyarakat Indonesia di Melbourne. Dengan restorannya ini, belakangan Pak Sisco lebih dikenal sebagai Pak’E (dalam bahasa jawa yang artinya Bapak saya).

Karena kekhasan makanan Indonesia yang disajikan dan gaya kekeluargaan yang ditampilkan, menjadikan restoran New Blok M makin terkenal. Setiap kali ada orang Indonesia berkunjung ke Melbourne dan merindukan masakan Indonesia, maka Restoran Pak’E lah sebagai pengobatnya. Tak terhitung banyaknya pejabat dan artis Indonesia yang sudah berkunjung dan menikmati kelezatan makanan olahan Pak’E. Bahkan tidak sedikit orang Asia di luar Indonesia yang ada di Melbourne menyambangi restoran Pak’E untuk sekedar mencicipi makanan selera Indonesai.

Suatu kali setelah beliau tinggal di Melbourne, beliau berinteraksi dengan mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh studi di Monash University. Dari perkenalan dan perbincangan dengan sang mahasiswa inilah Pak’E menjadi mengenali dan mendalami Islam. Hati beliau kemudian terpaut dengan keindahan dan keunggulan Islam. Untuk selanjutnya beliau tergerak menjadi seorang muslim yang taat.

Meskipun sudah begitu mencintai Islam, sampai sekarang penampilan keseharian Pak’E tidak berubah. Dengan rambut gondrong, baju kaos dan dibalut dengan celana jeans. Bahkan rambut gondrong beliau tidak dipotong, meskipun pada suatu kesempatan oleh Konsulat Jenderal (Konjen) Republik Indonesia beliau didaulat menjadi khatib Jum’at. Pernah suatu kali ada orang yang bertanya mengapa beliau berambut gondrong ? Jawaban yang meluncur dari bibir beliau adalah bahwa rambut gondrong memudahkan beliau untuk tidur, ketika tidak ada bantal atau alas lain untuk tidur. Rambut gondrong masih menurut beliau juga bermanfaat untuk melindungi kepala dari cuaca dingin, khususnya di Melbourne yang memiliki musim dingin. Tetapi yang lebih penting bagi beliau adalah karena rambut gondrong membuat beliau merasa nyaman.

Tetapi yang lebih menarik dari perilaku Pak’E sekarang adalah kepeduliannya kepada kesulitan orang lain. Setiap kali ada orang Indonesia yang mengalami kesulitan, maka dengan mudahnya beliau mengulurkan bantuan. Dari mulai sekedar mengantarkan orang yang tidak tahu alamat yang mau didatangi di Melbourne, memberikan penampungan sementara kepada orang Indonesia yang misalnya terlunta-lunta atau juga mencarikan pekerjaan kepada orang Indonesia yang menganggur dan mengalami kesulitan hidup. Pendeknya dengan kemurahan hati beliau sekarang, perannya di Melbourne seperti menjadi “Konjen Bayangan” saja.

Pernah suatu kali rombongan pejabat berkunjung ke restoran beliau di sela-sela tugas mereka di Melbourne. Setelah Pak’E berkenalan dan menceritakan perjalanan hidup dan perkembangan bisnis restorannya, ada seorang pejabat yang memintanya untuk berkunjung ke rumah beliau. Setelah bertemu di rumah beliau, rupanya sang pejabat tadi tertarik keberhasilan restoran New Blok M dan menawari kerjasama bisnis pengembangan restoran beliau. Dan beliau menjawab seperti ini : “Maaf Pak, saya tidak begitu tertarik dengan penawaran Bapak. Bukannya saya tidak ingin mengembangkan bisnis saya, tapi saya merasa cukup dengan apa yang selama ini sudah saya rasakan”.

Menurut Pak’E, yang dirasakan penting sekarang adalah bersyukur dan tetap bersahaja, karena sudah begitu banyak nikmat yang beliau rasakan dengan cara mendekatkan diri kepada Allah SWT dan banyak menolong orang lain.

Keterangan Gambar :

Yang diapit ahmad juwaini & arif adalah Konjen RI di Melbourne. Pak Sisco adalah yang berdiri sebelah kanan ahmad juwaini yang memakai kaos bergambar mbah Marijan & bercelana jeans

Peradaban Zakat menguak Australia


Ruang seminar Australian Defence Force Academy dari University of New South Wales (UNSW) menjadi saksi sebuah pergelaran pengalaman pengelolaan zakat Baznas Dompet Dhuafa selama hampir 14 tahun, khususnya dalam penanggulangan bencana. Seminar internasional yang merupakan bagian dari The Asia Pacifik Seminar Series ini dihadiri oleh perwakilan pakar Indonesianis dari Australian National University (ANU), Para pengurus Canberra Islamic Center (CIC), Para profesor dari UNSW, perwakilan dari Kedutaan Besar Indonesia dan mahasiswa-mahasiswi UNSW.

Tampil sebagai pembicara mewakili Baznas Dompet Dhuafa adalah Ahmad Juwaini dan Arif Abdullah yang secara lugas memaparkan pentingnya mobilisasi dan pendayagunaan dana Zakat, Infak dan Sedekah dalam penanggulangan bencana. Pada kesempatan seminar itu juga dibicarakan mengenai besarnya proporsi dana zakat terhadap keseluruhan dana pada saat terjadi bencana, universalitas penanggulangan bencana yang tidak mengenal ras dan agama, potensi dana sosial Australia untuk membantu bencana di Indonesia serta manfaat program sosial Baznas Dompet Dhuafa dalam membantu orang miskin di Indonesia.

Dan akhirnya, sebagai puncak dari diskusi dalam seminar tersebut juga dibicarakan kemungkinan kerjasama Baznas Dompet Dhuafa untuk melakukan edukasi dan mengembangkan pengelolaan zakat di Australia pada umumnya dan di Canberra pada khususnya.

Harapan masyarakat Australia tentang peningkatan pengelolaan zakat di negaranya menjadi sangat relevan. Karena bersamaan dengan seminar ini, utusan Baznas Dompet Dhuafa juga melakukan serangkaian kunjungan ke berbagai organisasi dan komunitas muslim yang memiliki potensi untuk diajak kerjasama dalam pengembangan zakat di Australia. Organisasi dan komunitas muslim yang diajak kerjasama oleh Baznas Dompet Dhuafa menyebar dari mulai wilayah Adelaide, Melbourne, Canberra dan Sydney.

Begitu antusias berbagai organisasi dan komunitas muslim tersebut menyambut ajakan untuk pengembangan Zakat di Australia. Beberapa di antara organisasi dan komunitas muslim tersebut malah langsung meminta dibuatkan program mobilisasi dana zakat dan pemanfaatannya melalui asistensi dari Baznas Dompet Dhuafa. Sebagian yang lain meminta tambahan informasi dan wawasan zakat yang selama ini banyak tidak mereka ketahui.

Australia, benua yang didiami oleh minoritas muslim itu, kini mulai menggeliat dengan sentuhan zakat. Irama kegairahannya dalam mengembangkan zakat perlahan akan semakin menggelegak. Jika itu terus dipacu, maka pada suatu waktu perkembangannya akan menjadi lompatan yang tinggi. Sebagaimana seekor kanguru yang melompati bebatuan tinggi, sehingga membuat terbelalak orang-orang yang melihatnya.

09 May, 2007

PENDIDIKAN DASAR HARUS GRATIS


Pendidikan adalah sebuah proses transformasi masyarakat dari kebodohan menuju cerdas pandai. Pendidikan juga adalah proses perubahan masyarakat dari ketidakmampuan menjadi keahlian. Sekaligus pendidikan adalah sarana mengubah kemalasan dan kejumudan menjadi kesadaran dan tindakan. Oleh karena itu, pendidikan menjadi fondasi sangat penting dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat.

Karena strategisnya kedudukan pendidikan dalam perubahan masyarakat, maka pendidikan harus mendapatkan prioritas yang tinggi dalam pembangunan. Tidak heran apabila UNDP merekomendasikan Indeks Pembangunan Manusia (Human Development Index) dijadikan sebagai parameter utama dalam menilai keberhasilan pembangunan suatu negara. Perhatian kita terhadap pendidikan juga telah disepakati oleh seluruh pengambil keputusan negara melalui UUD 1945 (hasil amandemen) yang pada pasal 31 ayat 4 mencantumkan bahwa anggaran pendidikan kita harus sekurang-kurangnya mencapai 20 % dari keseluruhan total anggaran pembangunan kita.

Kedudukan UUD yang semestinya dijadikan sebagai acuan dasar berbangsa dan bernegara, justru oleh pemerintah masih belum ditaati. Pemerintah yang seharusnya menjadi penjaga, pelaksana dan pemberi contoh pelaku UUD, malah menjadi “pembangkang” UUD. Selama tiga tahun terakhir pembangunan, alokasi anggaran pendidikan kita dalam APBN masih belum mencapai 20 %. Pada APBN tahun 2007 ini alokasi anggaran pendidikan baru menyentuh angka 11,8 %. Pemerintah juga semakin mengulur waktu pemenuhan angka 20 % tersebut dengan menyatakan bahwa anggaran sebesar itu baru akan dicapai lima tahun lagi. Itu artinya selama masa pemerintahan SBY – JK berkuasa, amanat UUD tersebut tidak akan pernah dicapai. Kalau betul rencana ini akan dilakukan, maka hal ini sungguh memprihatikan.

Alokasi anggaran pendidikan sebesar 20 % sudah sangat mendesak direalisasikan pada saat ini. Karena dengan alokasi sebesar 20 %, maka prioritas pertama yang harus segera dicapai adalah pemberian akses dan penyediaan kesempatan belajar untuk semua orang melalui pembebasan biaya pendidikan tingkat dasar yaitu sekurang-kurangnya pada jenjang SD sampai SLTA . Prioritas kedua adalah pada peningkatan kualitas belajar mengajar, seperti peningkatan kualitas guru, perbaikan rancangan proses belajar, dan penyediaan sarana dan fasilitas belajar. Sedangkan prioritas ketiga adalah pada dukungan pencapaian hasil belajar, peningkatan daya saing bangsa dan implementasi hasil belajar guna memperbaiki kualitas kesejahteraan.

Kita semua tentu mengetahui bahwa untuk meningkatkan kualitas pendidikan diperlukan biaya yang besar. Akan tetapi kalau semua pihak, khususnya pemerintah berkomitmen untuk mewujudkannya, maka biaya pendidikan dasar yang mahal bisa digratiskan. Dan kita juga harus buktikan bahwa sekolah yang gratis itu tetap bermutu. Bukan sekolah gratis yang seadanya atau asal-asalan.

Komitmen alokasi anggaran 20% tersebut harus tercermin pada APBN dan APBD selambatnya pada tahun 2008. Dengan anggaran 20% APBN saja, maka alokasi anggaran pendidikan pada APBN sekurang-kurangnya akan mencapai 120 Trilyun. Itu artinya rata-rata setiap propinsi akan mendapatkan alokasi anggaran pendidikan dari APBN lebih dari 3,6 Trilyun. Belum lagi dari sumber APBD. Jumlah tersebut cukup memadai untuk memulai pendidikan dasar berkualitas yang gratis.

Pemenuhan kesempatan belajar tingkat dasar yang gratis diharapkan akan mempercepat proses perbaikan kualitas bangsa secara menyeluruh. Dan dengan perbaikan kualitas bangsa, akhirnya kita berharap bahwa peningkatan kesejahteraan masyarakat akan segera dapat dicapai.

04 May, 2007

ETIKA MENOLONG


menolong adalah sebuah perbuatan yang mulia. Menolong adalah sebuah bentuk perilaku ketika seseorang terpanggil untuk melakukan atau memberikan sesuatu yang sedang dibutuhkan orang lain. Menolong adalah kesediaan seseorang untuk mengorbankan waktu, tenaga, pikiran atau harta yang dimiliki untuk kebaikan orang lain.

Menolong mekipun termasuk perbutan yang baik, menjadi tidak sempurna atau berubah menjadi perbuatan buruk apabila dilakukan tanpa memenuhi etika. Ada beberapa etika yang perlu diperhatikan dan diimplementasikan ketika kita menolong, yaitu :

1. Dilandasi keikhalasan. Sebuah perbuatan menolong yang baik adalah yang dilandasi atau ditujukan karena Allah SWT. Yaitu ketika kita menolong bukan semata-mata karena kita kasihan melihat orang lain, akan tetapi karena Allah SWT memerintahkan kita untuk berusaha selalu menolong orang lain. Misalnya ketika kita melihat orang miskin yang berbaju kumal, badannya kurus, mukanya kotor, muncul rasa iba di hati kita. Karena kasihan melihat orang tersebut kita menolong orang miskin tersebut. Sebenarnya Landasan menolong yang paling hakiki dan bersifat ajeg adalah menolong karena Allah SWT. Sehingga meskipun perasaan kita tidak kasihan, tetapi karena Allah SWT meminta kita untuk banyak menolong, maka kita akan tetap menolong orang lain.

2. Menolong dengan sesuatu yang baik. Menolong dengan barang bekas adalah perbuatan baik. Akan tetapi menolong dengan barang yang bagus atau baru jauh lebih baik. Harus dihindari oleh kita menolong dengan sesuatu barang yang kitapun sudah tidak meyukainya atau membencinya. Jangan sampai terjadi ketika kita menolong atau membantu orang lain, kemudian barang yang kita gunakan untuk membantu orang tersebut, bukannya diterima malah ditolak atau dibuang, karena orang yang ditolong merasa tidak memerlukan atau tidak menyukainya. Yang terbaik adalah menolong orang lain dengan barang yang paling disukai oleh orang yang akan menerimanya.

3. Dilakukan dengan cara atau sikap yang baik. Bila ada pengemis meminta bantuan kepada kita, misalnya meminta uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Tidak banyak yang dimintanya, misalkan Rp 10.000,- Kemudian kepada pengemis itu kita berikan uang Rp 100.000,- akan tetapi uang itu kita berikan dengan cara dibanting di hadapan pengemis tersebut, sambil kita (maaf !) ludahi. Meskipun jumlah uang tersebut sangat besar jumlahnya dibandingkan yang dimintanya, akan tetapi kalau cara kita memberikannya dengan cara seperti itu, maka bisa jadi pengemis itu tersinggung dan merasa terhina. Bahkan bisa jadi pengemis itu mengurungkan niatnya untuk menerima uang yang kita berikan dengan cara yang sangat merendahkan dan menghinakan tersebut.

4. Dalam keadaan darutat, jangan tanya suku, bangsa atau agamanya. Ketika kita melihat orang yang perlu ditolong dan keadaannya darurat, maka tidak perlu kita bertanya : sukunya apa ? bangsanya apa ? atau agamanya apa ? Dalam keadaan darurat yang paling penting adalah menyelamatkan korban dari keadaannya yang membahayakan. Apalagi kalau keadaan orang yang mau kita tolong tersebut, sudah terancam nyawanya, maka ketika kita hendak menolong tidak perlu kita bertanya suku, bangsa atau agama dari orang tersebut. Karena menyelamatkan nyawa manusia sangat bernilai derajatnya.

5. Jangan diingat-ingat dan jangan disebut-sebut. Kalau kita pernah menolong orang lain, jangan suka diingat-ingat perbuatan kita tersebut. Biarkan perbuatan menolong itu menjadi amal baik kita, jangan terlalu sering kita mengenangnya atau menyebutkannya. Apalagi di hadapan orang yang pernah kita tolong. Jangan sekali-kali kita mengungkit-ungkit perbuatan menolong kita, meskipun orang yang pernah kita tolong itu sedang mengecewakan atau menyakiti kita. Karena banyak di antara kita yang kemudian menyebut-nyebut perbuatan menolong kita, ketika orang yang kita tolong tersebut mengecewakan atau menyakiti kita.

04 April, 2007

KEPEDULIAN MBAH MARIJAN


Mbah Marijan, orang tua yang sangat disegani di kawasan Merapi Jogjakarta wajahnya kini sangat sering muncul di layar kaca. Maklum, sekarang beliau telah menjadi bintang iklan sebuah produk minuman energi. Dengan iklan tersebut, popularitas Mbah Marijan semakin meningkat pesat. Sepintas ada kesan bahwa lelaki yang pernah tetap tenang dan tidak mengungsi saat Merapi mulai “batuk-batuk” pertengahan tahun lalu itu, kini menjadi komersial. Dalam iklan tersebut, keperkasaan Mbah Marijan telah disejajarkan dengan Chris Jhon juara tinju dunia asal Indonesia.

Konon kabarnya, Pada awalnya Mbah Marijan menolak mentah-mentah untuk menjadi bintang iklan produk minuman energi tersebut. Selain karena hal itu akan merusak citra diri beliau, Mbah Marijan juga merasa tidak tergoda untuk menerima sejumah uang yang ditawarkan sebagai balas jasa. Menurut Mbah Marijan, beliau ingin tetap hidup sederhana dan merasa cukup dengan apa yang telah beliau miliki selama ini. Lelaki yang dianggap sakti oleh sebagian warga Merapi ini lebih memilih untuk memperhatikan warga sekitar dan lingkungan alam sekitarnya.

Setelah dibujuk dengan berbagai cara, hati Mbah Marijan akhirnya luluh juga untuk menerima tawaran menjadi bintang iklan tersebut. Kesediaan hatinya terbuka, ketika kepada Mbah Marijan diyakinkan bahwa uang yang bisa diperoleh dengan menjadi bintang iklan tersebut dapat digunakan untuk menolong tetangga-tetangganya yang kekurangan. Juga diyakinkan bahwa uang hasil menjadi bintang iklan bisa digunakan menolong warga di sekitar Merapi yang mengalami kesulitan. Maka, Jadilah Mbah Marijan sebagai bintang iklan.

Kesediaan Mbah Marijan menjadi bintang iklan karena ingin menolong sesama manusia adalah sebuah peristiwa langka. Pada saat kebanyakan manusia sekarang lebih mementingkan urusannya sendiri, Mbah Marijan mencontohkan bahwa uang dan popularitas yang diraih adalah sarana untuk membantu sesama. Kita semua mengetahui saat ini banyak para pemimpin dan wakil rakyat yang bertindak bukan memperjuangkan dan membela nasib rakyat yang diwakilinya, malah sebaliknya lebih sibuk memperjuangkan kepentingan dan kesenangannya sendiri.

Keteladanan Mbah Marijan mengajarkan kepada kita bahwa kita harus senantiasa berkorban dalam rangka menolong orang lain. Mbah Marijan mempraktekkan sebuah perilaku hidup yang berusaha mendahulukan kepentingan orang lain dibanding kepentingan dirinya. Mbah Marijan telah berhasil mewujudkan perilaku bahwa setiap tindakan kita harus senantiasa dilandasi oleh motivasi untuk memberikan manfaat kepada orang lain. Bahkan sesuatu yang sesungguhnya tidak ingin dilakukan, tapi demi menolong orang lain, akhirnya dikerjakan.

Mbah Marijan adalah sosok pemimpin yang sebenarnya bagi warga di sekitar Merapi. Karena dalam pandangan Mbah Marijan kesejahteraan masyarakat sekitar Merapi telah menjadi tanggung jawab yang juga harus dipikulnya. Kesulitan dan penderitaan masyarakat di sekitar Merapi adalah suara hati yang menggerakkan setiap tindakan dan perilakunya untuk membantu mereka. Mbah Marijan adalah sosok penuh kepedulian, khususnya kepada sesama manusia yang hidupnya penuh kekurangan. Semoga kita semua dapat meniru perilaku hidup seperti Mbah Marijan. Wallahu A’lam !

25 March, 2007

MENTERI ZAKAT


Kita patut bersyukur, karena selama satu dasa warsa terakhir, perkembangan zakat di Indonesia tumbuh begitu pesat. Sejak berdirinya Asosiasi Organisasi Pengelola Zakat seluruh Indonesia (Forum Zakat) pada tahun 1997 sampai pada tahun ini banyak catatan menggembirakan terjadi dalam ranah zakat Indonesia. Pada tahun 1999 disahkan Undang Undang Pengelolaan Zakat, yaitu UU No. 38 Tahun 1999. Meskipun masih ditemukan adanya kelemahan dalam UU tersebut, tetapi keberadaannya telah meniupkan kegairahan pengelolaan zakat di Indonesia.

Kehadiran UU pengelolaan zakat, kemudian diikuti dengan munculnya perda zakat di berbagai daerah. Sampai saat ini telah tiga daerah propinsi dan 20 Kabupaten/Kota yang telah memiliki perda zakat. Kehadiran UU pengelolaan zakat juga telah menyuburkan berdirinya organisasi zakat formal yaitu Badan Amil Zakat (BAZ) sebagai institusi pemerintah yang telah berdiri di 31 Propinsi dan lebih dari 300 Kabupaten/Kota serta 18 Lembaga Amil Zakat (LAZ) sebagai institusi bentukan masyarakat pada tingkat nasional yang telah dikukuhkan oleh Menteri Agama. Belum terhitung LAZ tingkat propinsi dan Kabupaten/Kota yang sudah dikukuhkan Gubernur dan Bupati atau Walikota.

Dinamika aktivitas organisasi pengelola zakat juga telah berdampak pada perubahan perilaku berzakat masyarakat Indonesia. Jika pada tahun 1997 masyarakat yang membayarkan zakatnya melalui institusi formal kurang dari 3 %, maka pada akhir tahun 2006 cakupannya sudah hampir mencapai 20 %. Hal ini juga ditunjukkan oleh akumulasi penghimpunan dana yang diperoleh organisasi zakat formal. Jika pada tahun 1997 akumulasi total yang dihimpun organisasi zakat formal hanya mencapai 150 Milyar, maka pada akhir tahun 2006 sudah mencapai 800 Milyar.

Akumulasi penghimpunan dana yang telah dihasilkan oleh organisasi zakat formal,masih sangat jauh dari potensi zakat yang dimiliki oleh masyarakat Indonesia yaitu sebesar 19,3 Trilyun per tahun. Angka inipun masih dapat dieskalasi sampai mencapai 90 Trilyun, apabila zakat telah dikelola dengan sangat baik dan diikuti dengan donasi Infak/Sedekah atau Wakaf yang tergalang dengan optimal.

Tanda-tanda positif dari geliat zakat di Indonesia juga menunjukkan tentang mulai signifikannya urusan zakat dalam tata kelola negara kita. Berdirinya Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) pada tahun 2001 melalui SK Presiden No. 8 tahun 2001 dan Badan Wakaf Indonesia (BWI) pada awal tahun 2007 ini, semakin menguatkan posisi zakat dalam lingkar pengelolaan negara. Dengan semakin luasnya lingkup persoalan zakat dan semakin besarnya pengaruh zakat, maka sudah seharusnya apabila kini zakat lebih dalam lagi ditempatkan dalam tata kelola negara Indonesia.

Kebutuhan untuk perlunya segera dibentuk Kementerian Zakat dan Wakaf menjadi semakin mendesak. Tentu saja pada tahap awal kementerian ini hanya berupa kementerian negara yang tidak membawahi departemen. Kementerian ini akan memerankan fungsi regulator dan pengawas, sekaligus penentu kebijakan pengelolaan zakat di Indonesia. Orientasi dari kementerian ini adalah mengarahkan agar zakat dapat dimaksimalkan dalam membantu pengentasan kemiskinan, pencapaian organisasi zakat yang profesional dan akuntabel, serta integrasi dan sinergi seluruh organisasi zakat di bawah satu payung kebijakan nasional.

Pola penanganan zakat juga harus mulai diubah, jika sebelumnya hanya didekati dalam platform hukum-hukum agama, maka ke depan harus didekati juga dalam instrumen pengelolaan keuangan dan kebijakan ekonomi. Sebagai sebuah kewajiban masyarakat, maka zakat adalah instrumen fiskal, akan tetapi dalam lingkup pemanfaatan dan pendayagunaan, maka zakat adalah instrumen moneter dan instrumen sosial. Sehingga tidak salah jika penataan dan pengelolaan zakat juga dikaitkan dengan kebijakan makro ekonomi suatu negara.

Kalau sekarang ini tulang punggung pendapatan dalam negeri kita adalah pajak, maka pada suatu ketika zakat juga akan mampu mendanai pembangunan dalam proporsi yang semakin berimbang dengan pajak. Bukankah pada masa lalu di Indonesia jumlah pendapatan pajak juga sangat kecil ? Apalagi kalau kita menengok sejarah Islam pada masa Rasul saw dan Khulafaur Rasyidin, maka kita mendapati bahwa porsi zakat dalam mendanai pembangunan cukup besar. Semoga dengan kehadiran Menteri Zakat, harapan agar peran zakat sangat signifikan dalam membantu mengatasi kemiskinan segera terwujud.

02 March, 2007

RELAWAN JOGJA

Satu hari berselang sejak terjadinya gempa yang melanda Yogya dan Jateng, Agus (bukan nama sebenarnya) bergegas meluncur dari Jakarta ke Yogya untuk memenuhi panggilan tugas. Sudah beberapa tahun ini ia menjadi relawan sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Sesampainya di Yogya ia bertindak cepat melayani para korban gempa, dengan membagikan makanan dan layanan kesehatan. Tidak lupa juga mendirikan tenda dan membagikan logistik lain yang sangat diperlukan para korban gempa.

Lepas dari penanganan tahap darurat, Agus bersama rekan-rekannya yang lain, mulai memikirkan program lanjutan. Muncullah gagasan untuk membangun rumah tahan gempa. Rancangan rumah tersebut didesain melibatkan arsitek dan ahli teknik sipil. Rumah tahan gempa tersebut disiapkan dengan ukuran 36 meter persegi di atas lahan milik warga sendiri. Seluruh biaya bahan diperkirakan menghabiskan dana 25 juta rupiah. Tenaga kerjanya menggunakan warga dan relawan yang terlibat. Setelah perencanaan selesai, pelaksanaan pembangunan rumah pun dimulai. Relawan dan warga membangun rumah dengan antusias. Penuh kerja keras mereka mendirikan rumah di kawasan reruntuhan gempa yang telah dibersihkan. Dari mulai pagi Sampai pukul sepuluh malam, pembangunan rumah dilakukan. Dari mulai fondasi bangunan sampai bagian atap terus dikerjakan. Seperti tidak kenal lelah, warga dan para relawan ingin segera menyelesaikan pembangunan rumah tersebut.

Setelah tiga minggu, pembangunan beberapa unit rumah telah selesai. Tibalah saat peresmian rumah tersebut. Wajah-wajah para pemilik rumah yang baru dibangun tersebut dihiasi kebahagiaan. Wajah sedih pada saat baru terjadi gempa, kini telah bertukar menjadi ulasan senyuman. Beberapa relawan, termasuk Agus juga dengan puas memandangi rumah yang telah dibangun tersebut. Tampak bahwa rumah tersebut, meskipun berukuran tidak besar, tetapi memancarkan kebersihan dan kebaruannya. Dua hari setelah peresmian rumah tersebut, Agus menyempatkan diri untuk kembali ke Jakarta. Niatnya ingin mengambil barang untuk keperluan program selanjutnya, sekalian evaluasi di kantor LSM-nya. Tidak terasa sudah hampir satu bulan ia meninggalkan Jakarta. Sesampainya di rumah dan beristirahat sejenak, istrinya bercerita : “Mas, tadi siang ada Pak Rifa’i pemilik rumah kontrakan kita, menanyakan tentang kelanjutan kontrak rumah kita. Karena katanya, satu minggu lagi kontrak rumah kita tahun ini sudah habis. Beliau bilang kalau mau diperpanjang, selambatnya lima hari lagi uang kontrakan harus dibayar.” Mendengar tuturan dari istrinya, Agus menjawab : “Ya Nanti, kita usahakan untuk dibayar.”Selesai berdialog dengan istrinya, Agus berpikir dan segera menyadari kembali ternyata ia adalah seorang “kontraktor” yang harus segera membayar uang kontrakan rumah. Seketika itu juga, melintaslah bayangan rumah-rumah di Yogya yang dibangunnya bersama relawan lainnya. Rumah-rumah itu telah menjadi milik warga yang menjadi korban gempa. Selanjutnya, Agus pun sadar bahwa uang yang dia miliki saat ini tidak cukup untuk membayar uang kontrakannya di Jakarta. Agus berpikir keras darimana ia harus menutupi kekurangan pembayaran kontrakan rumahnya. Sambil terus berpikir untuk mencari jalan keluar, selepas sholat ia berdo’a : “Ya Allah, berikanlah petunjuk kepada kami, mudahkan urusan kami dan datangkanlah rezeki dari-Mu sehingga kami dapat membayar kekurangan uang kontrakan kami. Amin...!”

BALADA PEMULUNG MALAM

Pada tayangan televisi beberapa hari yang lalu, kita disuguhi kesibukan ribuan orang yang mengikuti tes menjadi Pagawai Negeri Sipil (PNS). Sebegitu hebatnya makna menjadi PNS, sampai ada peserta yang mengikuti tes sambil membawa bayinya yang masih disusui ke tempat tes. Ibu tersebut bolak-balik keluar masuk ruangan tes untuk sesekali menyusui anaknya di luar.

Seorang Ibu lainnya melaksanakan tes di ruang bersalin. Ibu tersebut tidak ingin ketinggalan mengikuti tes, meski bayi di kandungan sudah mulai berkontraksi hendak membrojol. Bagi mereka, tes PNS itu teramat penting, sehingga bagaimanapun kondisinya, tes PNS harus ikut.

Melihat begitu bernilainya arti menjadi PNS bagi sebagian orang, saya menjadi teringat kepada kenyataan berikut :

Malam baru saja berdentang pukul satu. Sebagian besar insan sedang terlelap dalam peraduan. Seorang anak belasan tahun tampak sedang berkemas. Dengkur gulita Bandung justru saat bangkit bagi anak tersebut untuk memulai tugas. Dengan karung plastik lusuh yang terpanggul ia mulai menapaki kegelapan. Langkah kakinya terus diayun menembus dingin yang menusuk-nusuk kulit.

Setelah melambaikan tangan dan tersenyum kepada Satpam di gerbang Perumahan Sumber Sari, mulailah ia menyisir satu demi satu tempat sampah di perumahan itu. Bau yang menyengat hidung saat tutup tempat sampah dibuka, baginya sudah tidak terasa lagi. Dikorek-koreknya remah-remah rumah tangga. Dicarinya beberapa benda seperti kertas, plastik, botol, logam, kaca dan benda apa saja yang menurutnya masih bernilai.

Tidak sedikit perjalanannya terganggu, karena anjing menyalak atau mengejarnya. Atau tatapan penuh curiga dari orang yang kebetulan melintas. Sesekali ia pun harus bersaing dengan pemulung lain yang beroperasi di tempat yang sama. Alasan menghindari persaingan juga yang menjadi sebab ia memilih menjadi Pemulung Malam.

Saat fajar merekah, ketika kumandang azan Subuh mengalun, ia menyempatkan diri mengaso sejenak. Diambilnya air wudlu dan ditunaikannya sholat di masjid terdekat. Selesai sholat, ia melanjutkan lagi pekerjaannya. Sampai menjelang pukul 8 pagi, barulah ia menuntaskan perburuan sampahnya.

Sampai di rumah, ia tidak bisa langsung beristirahat. Karena ia masih harus memilah-milah sampah tersebut. Dikelompokkannya sampah tersebut berdasarkan jenisnya. Usai disortir tersebut, dengan harapan yang bergelora ia mengantarkan sampah tersebut kepada pengumpul yang menampung hasil pekerjaannya. Dengan sampah yang dipanggul sekarung tersebut, ia dibayar 15 sampai 20 ribu Rupiah. Cukuplah itu untuk menyambung hidupnya hari itu.

Asep, demikian nama anak tersebut, hanya sekolah sampai kelas 4 SD. Ibunya sudah lama meninggal dunia. Sementara Bapaknya kawin lagi. Ia bersama enam saudaranya harus berjuang mati-matian menjaga kehidupan. Apapun cara akan dilakukan untuk memelihara nafas terus mengaliri rongga dada. Sudah beberapa tahun ini ia menjadi pemulung.

Meski dari memulungnya sehari hanya mendapatkan 15 ribu perak, yang bagi sebagian orang hanya cukup untuk segelas kopi, Asep selalu mensyukuri. Baginya yang penting adalah bisa menikmati. Asep memang pernah bermimpi untuk hidup lebih baik. Tapi dengan keterbatasan dan bekal pendidikan yang tidak tamat SD, ia tidak bisa berharap banyak.

Dalam renungnya, Asep menyadari ia tidak mungkin untuk ikut antri seperti orang lain yang berdesakan menjelang pendaftaran menjadi calon pegawai negeri. Status PNS yang bagi sebagian orang bagaikan permata di tengah penggaguran yang meruyak, bagi Asep hanyalah impian kosong. Baginya jauh lebih penting berbuat sehingga tidak menjadi beban orang lain, daripada terus menunggu lamaran bekerja diterima. Meskipun, pada awal memulai profesi pemulung, dadanya bergemuruh hebat, karena harus menghancurkan semua gengsi dan keriangan masa remajanya.

Kadang menjelang tidur, Asep masih sempat merapalkan do'a : "Ya Tuhan ampunilah dosa kedua orang tuaku, kasihilah mereka sebagaimana mereka mengasihiku di waktu kecil." Doa' inilah yang selalu menjadi mantera penebus manakala kerinduannya kepada orang tua datang menyergap.

Fakta tentang Asep, dan kehebohan sebagian besar orang untuk menjadi PNS, menunjukkan bahwa masih menggunungnya angka pengangguran di Indonesia. Tugas kita semua, khususnya pemerintah untuk selalu berkreasi menciptakan lapangan kerja dan membantu mereka yang tidak mampu menjadi berdaya.

Para penganggur juga mesti belajar kepada Asep, bahwa hidup tidak hanya sekedar menunggu kenikmatan. Tapi yang terpenting adalah mau bekerja keras untuk hidup dengan kemampuan sendiri.

HEBATNYA ORANG MISKIN

Sering kita merasa bahwa kita memiliki kemampuan luar biasa. Kepintaran kita seolah tiada bandingnya. Kemampuan kita dalam memanfaatkan peluang dan menghasilkan prestasi sungguh luar biasa. Bahkan kita bisa menunjukkan segudang catatan prestasi pribadi dan kemasyarakatan kepada orang lain. Perasaan ini, kerap kali berimplikasi melupakan kelebihan dan jasa orang lain.

Padahal kalau kita mau jujur, sehebat apapun prestasi dan kemampuan kita, maka sesungguhnya kita selalu dibantu oleh orang-orang miskin untuk meraih prestasi itu. Setiap kali kita hendak memperoleh keberhasilan atau kesuksesan, selalu ada ketergantungan kita akan jasa orang-orang miskin dalam meraih keberhasilan tersebut.
Tengoklah ke dalam rumah kita, setiap hari kita selalu bergantung kepada kemampuan para pembantu yang nota bene dari orang-orang miskin. Satu minggu saja rumah tangga kita tidak bantu orang-orang miskin, maka kita akan sadar bahwa ternyata kemampuan kita menghasilkan prestasi menjadi melemah. Satu minggu tanpa pembantu rumah tangga, pada saat pekerjaan di kantor atau di luar menumpuk dan tidak bisa ditinggalkan, maka guncanglah konsentrasi kita. Hilanglah rasa hebat diri yang pernah menyelimuti hati kita.

Mau pergi ke kantor kita memerlukan sopir (dari orang miskin juga), baik sopir pribadi maupun sopir angkutan umum. Tanpa mereka, kelancaran kita menuju tempat aktivitas terganggu. Di tempat kerja, selalu ada orang-orang yang mau mengurusi kebersihan, menyediakan minuman dan pergi kemana saja sesuai permintaan kita (lagi-lagi orang miskin). Apabila mereka ini tidak ada, pekerjaan kita menjadi tertunda atau menjadi melambat temponya.

Semua makanan yang kita makan sehari-hari, juga buah dari kerja keras orang-orang miskin. Karena yang mau menanam padi, jagung atau tanaman lainnya adalah orang miskin. Juga yang beternak atau menangkap ikan di laut adalah orang miskin. Orang miskinlah yang telah menolong kita untuk mengerjakan pekerjaan yang berat-berat, kotor dan berbahaya. Merekalah yang telah menyumbangkan prestasinya sehingga kita hidup nyaman dan mencapai kebanggaan dalam hidup ini.

Bangunan-bangunan megah dan jalan-jalan beraspal licin yang ada di sekeliling kita adalah bukti kerja keras orang-orang miskin. Saudara-saudara kita yang miskin telah berprestasi di negara jiran. Menara kembar yang menurut kabar tertinggi di dunia, terletak di Malaysia, adalah hasil tetesan keringat mereka semua. Bahkan seluruh gedung-gedung di berbagai kawasan dunia, hampir seluruhnya merupakan karya nyata dari orang-orang miskin. Sungguh tiada bandingnya hasil karya dan jasa orang miskin dalam kehidupan kita.Pantaslah jika Rasulullah saw berujar : “Kalian dibesarkan oleh orang-orang miskin di sekeliling kalian”. Ucapan Rasulullah saw ini menunjukkan akan banyaknya jasa orang-orang miskin kepada kita, sekaligus menegaskan bahwa kemuliaan kita juga muncul karena keberadaan orang-orang miskin di sekitar kita.

Jasa besar mereka seringkali tersembunyi oleh nama besar dan simbol-simbol pribadi kita. Seolah yang menjadi pahlawan atau berprestasi hanyalah kita saja atau beberapa gelintir orang. Nama mereka tak pernah diabadikan dalam nama jalan, nama gedung, dokumen sejarah, goresan catatan keberhasilan atau sekedar sebuah sertifikat indah. Jasa mereka telah kita kesampingkan. Dan meskipun mereka kita perlakukan seperti itu, mereka tidak pernah menuntut atau menagih penghargaan. Sungguh begitu hebat orang-orang miskin !

20 February, 2007

PASUKAN BANJIR DAN MARINIR

Pasukan tentara, selalu terkesan angker. Badannya tegap, perilakunya keras dan tampangnya garang. Maklum tentara memang dibentuk untuk siap menghadapi perang. Dalam perilaku kita sehari-hari sebagai masyarakat sipil, tak banyak interaksi sosial kita dengan militer. Paling yang selalu kita lihat adalah saat tentara berbaris, berlatih atau bertugas menjaga sebuah tempat. Itupun umumnya kita melihat mereka dari jauh.

Selama bencana banjir yang mendera ibu kota dan sekitarnya, Baznas Dompet Dhuafa telah bekerjasama dengan kesatuan marinir untuk melakukan aksi membantu korban banjir. Pilihan melibatkan pasukan marinir adalah ketika kita mengetahui bahwa lebih dari 50 % wilayah jakarta telah tergenang banjir. Beberapa daerah bahkan mencapai ketinggian lebih dari tiga meter. Itu artinya bahwa Jakarta telah berubah menjadi lautan. Area bencana yang begitu luas dan jumlah pengungsi yang lebih dari 300.000 jiwa menyadarkan kita bahwa kekuatan personil tim aksi banjir kita termasuk relawan jumlahnya masih sangat terbatas. Segera kita menyadari bahwa pasukan yang paling efektif untuk menerjang lautan banjir adalah marinir.

Meskipun tanpa diajak kerjasama oleh kitapun, pasukan tentara akan terpanggil untuk menolong masyarakat yang menjadi korban banjir, akan tetapi melalui kerjasama, kita diberikan kewenangan untuk mengatur dan menempatkan pasukan tentara di wilayah mana saja yang kita kehendaki. Termasuk juga meminta pasokan jumlah kendaraan truk tinggi besar, perahu karet bermesin dan perlengkapan lainnya untuk medan tempur air. Istilah komandonya, pasukan marinir telah di-BKO-kan dalam pasukan banjir kita.

Dan ternyata perkiraan kita memang betul. Selama penanganan aksi, para prajurit marinir ini terlihat sangat tangkas. Saat sebagian kita mendayung perahu karet tertatih-tatih di arus banjir yang sangat deras atau berusaha berpegangan di jalur tambang untuk menjaga agar perahu karet tidak hanyut, maka dengan lancarnya perahu karet bermesin marinir menjelajahi semua aliran banjir. Bagai speedboat, perahu karet bermesin marinir menyapu setiap kawasan untuk mencari korban yang perlu dievakuasi. Bolak-balik perahu karet bermesin marinir ini mengantarkan korban evakuasi dari lautan banjir ke daratan.

Kesigapan marinir juga terlihat ketika mereka mengangkut bantuan logistik seperti beras, mie instan, telur dan air minum mineral. Juga ketika mereka membantu kegiatan layanan medis dan dapur umum. Puncaknya adalah ketika mereka kita libatkan dalam aksi pembersihan lumpur dan sampah setelah air surut. Pasukan marinir sekali lagi menunjukkan kekompakan dan kerja kerasnya yang sangat efektif.

Selama berinteraksi dengan pasukan marinir, selain kita menyaksikan ketangkasan mereka dan ketegasan kata-kata : “Siap Komandan !” atau “Run Do !” dari mulut mereka apabila diperintah, kita juga menyaksikan sisi lain dari pasukan marinir. Ternyata bahwa sebagian dari pasukan marinir itu juga penuh ketulusan untuk selalu memenuhi berbagai pekerjaan yang kita minta. Juga di balik wajah garangnya, tersirat kepolosan dalam kemudaan usianya ketika memahami segala sesuatu.

Mereka juga bukanlah jenis manusia yang serakah. Suatu malam saat berjaga di Posko kita untuk melanjutkan aksi berikutnya, kami menawari mereka makan malam dengan nasi padang dalam kotak yang tertera nama rumah makannya. Mereka menjawab “Kami sudah makan.” Saat kami desak untuk tetap memakan makanan tersebut, Sang Marinir menjawab : “Kami sudah makan nasi bungkus tadi siang, lagian makanan itu kan buat Bapak-Bapak (maksudnya kami). Kami cukup kopi saja, agar terus bisa berjaga malam ini”. Hati ini terasa tersentuh, betapa di balik tampang kerasnya para marinir, mereka masih bisa menjaga dirinya dari ketamakan.

Semakin tertusuk hati kami, ketika malam itu kami beranjak pulang menuju rumah masing-masing menemui istri dan anak-anak kami, berharap bisa beristirahat setelah seharian bergulat dengan banjir dan tidur di kasur yang nyaman, sementara para prajurit marinir masih berjaga di posko banjir kami dengan siaga sepanjang malam. Sungguh meskipun begitu banyak orang telah berjasa dalam menolong korban banjir kali ini, maka teramat pantas bila kita juga berterima kasih kepada pasukan marinir. Salam Komando !

28 January, 2007

SELIMUT HATI

Bagai rantai yang tak terputus, di wilayah Indonesia ini, kita menyaksikan berbagai keajaiban luar biasa yang desain oleh Yang Maha Kuasa. Pertama kita telah ditimpa tsunami yang bisa disebut sebagai bencana alam terbesar abad ini. Bagai tanpa aba-aba, gelombang lautan besar sebagai akibat terjadinya gempa telah menenggelamkan ratusan ribu jiwa. Para ahli meteorologi dan geofisika dibuat tak berdaya, bahkan sekedar untuk memberikan prediksi awal.
Menyusul kemudian bencana lumpur di Porong Sidoarjo, yang sampai kini telah melewati waktu delapan bulan, masih belum bisa diatasi. Meskipun banyak para ahli geologi telah dilibatkan untuk mempelajari penyebab dan menemukan cara mengatasinya, namun sampai sekarang hal itu tak kunjung didapatkan. Kita semua bagai kehabisan pengetahun dan konsep untuk sekedar menjelaskannya.
Yang terakhir adalah terjadinya “penghilangan” kapal KM Senopati dan Pesawat Adam Air dengan No. Penerbangan KI 574 Jurusan Surabaya - Manado. KM Senopati yang tenggelam di perairan dekat Pulau Mandalika, Jepara, hanya mampu kita beri alasan karena terhantam gelombang. Lebih dari 300 penumpangnya sampai hari ini tidak diketahui nasibnya. Usaha pencarian telah dilakukan selama hampir satu bulan penuh dengan mengerahkan semua kekuatan yang kita miliki, termasuk kapal selam. Akan tetapi sampai hari ini bangkai kapal itu masih belum kunjung ditemukan.
Sementara Pesawat Adam Air kita coba uraikan penyebabnya adalah badai di udara, karena kehilangan arah, kemudian hilang tak tahu kemana perginya. Meskipun telah ditemukan berbagai barang yang diduga sebagai serpihan pesawat adam air, akan tetapi badan pesawat itu sampai hari ini belum ditemukan. Padahal usaha pencarian sudah dilakukan oleh personil dalam jumlah yang mencapai ribuan orang, menggunakan berbagai kapal perang yang canggih. Bahkan sudah dibantu oleh para ahli dari Singapura dan Amerika. Khusus dari Amerika didatangkan kapal USNS Mary Sears untuk ikut mendeteksi keberadaaan badan pesawat. Tetapi sudah 25 hari dilewati, hasilnya badan pesawat belum juga diketemukan.
Peristiwa-peristiwa hebat yang telah terjadi itu, seringkali dirasakan oleh kita sebagai sesuatu yang biasa saja. Rasio kita sering merespon lebih cepat dan lebih banyak, sehingga yang timbul kemudian hanyalah apresiasi logika semata. Tak ada jejak secuil pun yang kemudian hinggap dan bersemayam dalam hati kita. Peristiwa yang sarat makna tersebut, tidak mampu menggetarkan kesadaran iman kita. Sebuah peristiwa luar biasa yang seharusnya memiliki dampak kepada hati kita, ternyata tidak berpengeruh apa-apa. Kita tentu perlu waspada, jangan-jangan itu semua karena hati kita telah tertutup oleh selimut.
Rasulullah saw pernah bersabda bahwa manakala setiap insan melakukan sebuah perbuatan dosa, maka akan muncul satu titik hitam di dalam hati kita. Dan manakala dosa tersebut semakin bertambah banyak, maka titik hitam itu semakin meluas. Sampai kemudian titik hitam itu mulai menutupi hati kita. Jadilah ia seperti selimut yang menghalangi hati kita. Sehingga apabila hati manusia sudah terselimuti oleh perisai hitam, maka menjadi sulit hati ini untuk memendarkan kebeningan. Gelombang peringatan dan fenomena yang penuh keajaibaan pun tidak mampu ditangkap oleh hati yang dipenuhi selimut hitam.
Hati yang sudah terselimuti tidak mampu menangkap sinyal kebesaraan Allah SWT di balik peristiwa. Hati seperti ini tidak terpengaruh lagi oleh beban penderitaan dan isak tangis mereka yang kekurangan. Juga sudah tidak berdampak segala kesedihan dan air mata dari para anak yatim yang kelaparan dan tak memiliki masa depan. Puncaknya bahkan sudah tidak peduli dengan segala keadaan masyarakat dan negara.
Menjejaknya kita di awal tahun 1428 Hijriyah ini adalah momentum bagi kita untuk mulai membersihkan kembali hati kita. Noda-noda yang menyelimuti harus mulai kita beningkan dengan ketundukan, kepasrahan dan pengabdian kepada-Nya. Semoga pada hari-hari yang akan datang selimut hati kita telah berganti dengan cahaya keimanan dan kepedulian. Wallahu A’lam !

18 January, 2007

KODE ETIK AMIL ZAKAT

Amil zakat adalah profesi yang semestinya selalu ada dalam kehidupan umat Islam. Keharusan adanya ditentukan oleh Allah Rabbul Alamin melalui wahyu-Nya dalam Al-Qur’an. Amil zakat betugas menjadi mediator bagi sirkulasi zakat dari muzakki kepada mustahik. Jika tiada amil zakat, maka robohlah tiang penyangga pengelolaan dana Zakat.

Berkait dengan amil zakat, seorang kawan bercerita tentang bergeloranya lembaga-lembaga zakat di sebuah kota dalam mengumpulkan zakat pada bulan Ramadhan. Karena begitu atraktifnya melakukan sosialisasi, maka di berbagai sudut kota bertaburan media promosi dari beberapa lembaga zakat. Malangnya kemudian muncul ekses kompetisi yang tidak sehat. Sebuah spanduk dari lembaga zakat “ditimpa” oleh spanduk lembaga zakat yang lain. Di kota lain, satu lembaga zakat, menghambat lembaga zakat lain yang hendak presentasi di sebuah perusahaan yang selama ini sudah menjadi “langganan” lembaga tersebut.

Fenomena di atas menunjukkan perlunya dipahami kode etik amil zakat. Yaitu sebuah panduan perilaku yang harus dijiwai oleh setiap orang yang terlibat mengelola zakat. Dengan kode etik amil zakat maka setiap orang dan lembaga akan terbimbing untuk berperilaku positif dan mendukung terhadap setiap upaya pengembangan zakat. Bukan sebaliknya menjadi kerdil dan menganggap bahwa mengelola zakat adalah urusan beberapa gelintir orang atau satu lembaga saja.

Kode etik amil zakat akan membentuk amil zakat yang memandang bahwa mengelola zakat adalah amanah yang sangat besar dari Allah SWT dan harus dilakukan dengan penuh kesungguhan. Tugas mulia mengelola zakat betul-betul dilandasi semangat beribadah dan pengabdian kepada Allah Rabbul Alamin. Karena jiwa keikhlasan yang mendalam, maka amil zakat akan menampilkan perilaku pengelolaan zakat yang sesuai dengan apa-apa telah digariskan oleh Allah SWT dan Rasul-Nya. Hasilnya adalah penampakan akhlaq yang mulia dalam mengelola zakat.

Beberapa bentuk perilaku yang dapat dijadikan kode etik amil zakat antara lain adalah :
1. Bekerja Ikhlas karena Allah
2. Menjadikan Syariat Zakat sebagai panduan pengelolaan
3. Melayani sepenuh hati kepada muzakki dan mustahik
4. Memiliki jiwa santun dan kemanusiaan, khususnya dalam membantu orang-orang miskin.
5. Memandang kompetisi dengan sesama lembaga zakat adalah perlombaan dalam kebaikan, sehingga saling menghargai dan menghormati.
6. Senantiasa transparan dan Akuntabel
7. Senantiasa memperbaiki diri, sehingga kinerja dari waktu ke waktu semakin meningkat
8. Senantiasa mendo’akan muzakki sebagai bentuk penghormatan kepada orang-orang yang telah memberikan sebagian hartanya guna menolong orang lain.

Khusus untuk melaksanakan kode etik tentang mendoakan muzakki, di lembaga kami setiap pagi dengan hati tulus dan bibir bergetar, kami memanjatkan do’a : “Ya Allah berikanlah pahala dari apa yang telah donatur Infaqkan, jadikanlah harta tersebut sebagai pensuci mereka. Dan berikanlah keberkahan atas harta mereka yang tersisa.” Amin..

IMUN BENCANA

Negeri kita, memang tidak salah disebut “Negeri Seribu Bencana”, karena di negeri kita ini bencana datang silih berganti. Bukan hanya bencana yang kecil-kecil, akan tetapi juga yang besar-besar.Bahkan bencana terbesar abad ini juga terjadi di negeri kita.

Rasanya belum kering air mata kita tumpah, saat bencana Tsunami menerjang Aceh dan Nias. Ratusan ribu nyawa melayang dan ribuan orang yang mengalami luka-luka. Ratusan ribu pengungsi beratap tenda bertaburan dimana-mana. Ornamen kesedihan dan kepedihan mengaliri rongga dada anak negeri ini.

Belum usai kita mengembalikan rumah dan sarana umum di Aceh dan Nias seperti semula, bencana lain sudah terjadi lagi. Susul menyusul bencana itu mengunjungi negeri zamrud khatulistiwa ini. Dari mulai banjir kediri, longsor di Banjar negara, banjir di Menado, kelaparan di Papua dan kekeringan di Nusa Tenggara Timur.

Bahkan dalam dua bulan terakhir ini, rangkaian bencana tersebut bagai mengalami akselerasi. Mulai dengan gelegak Merapi yang terus menimbulkan ancaman sampai hari ini. Sampai kemudian terjadi gempa di Jogja dan Jateng yang menewaskan lebih dari 6000 orang. Diikuti bencana lumpur di Porong Jatim dan ditimpali oleh bencana banjir dan longsor di Sulawesi Selatan. Korban terbesar banjir di Sulsel ini adalah di Sinjai yang menewaskan lebih dari 200 orang.

Rupanya bencana banjir masih terus berlanjut di Gorontalo, Kalsel, Balikpapan dan Bolang Mongondow Sulut. Kita tidak tahu, dimana lagi bencana ini masih akan terjadi. Kita tentu tidak mengharapkan ada bencana lagi. Mudah-mudahan cukuplah bencana ini sampai di sini.

Karena begitu sering dan bertubi-tubinya bencana terjadi, ada perubahan dalam diri kita yang tanpa disadari. Perubahan itu saya sebut sebagai “Imun Bencana”. Yaitu suatu keadaan dimana kita kehilangan atau kekurangan solidaritas, empati dan rasa terguncang akibat penderitaan orang.

Ketika terjadi Gempa Jogja dan Jateng yang menewaskan lebih dari 6000 jiwa, perasan kita adalah : “Meninggal 6000 orang belum ada apa-apanya dibandingkan lebih dari 250.000 jiwa di Aceh”. Ketika di Sinjai tewas lebih dari 200 orang, respon kita : “Dua Ratus orang adalah sangat kecil dibandingkan korban Gempa di Jogja dan Jateng”. Puncaknya adalah kehilangan nyawa manusia atau berdarah-darahnya luka akibat bencana telah menjadi pemandangan amat biasa bagi kita. Apalagi cuma derai air mata kesedihan dan kering kerontang tubuh manusia sebagai akibat bencana adalah gambaran sederhana yang sudah tidak memiliki pengaruh apa-apa kepada kita.

Munculnya Imun Bencana, mungkin disebabkan karena kita sudah merasa menghabiskan begitu banyak solidaritas. Sudah amat banyak bantuan yang coba kita ulurkan. Sudah sangat banyak peduli dan empati yang kita bagikan. Bahkan airmata kesedihan dari kita sudah habis kita teteskan. Puncaknya bahkan perasaan kitapun sudah mulai digerogoti sehingga habis tak tersisa.

Saya jadi teringat pada Hadits Nabi saw yang berbunyi : “Jika kalian melihat kemungkaran, maka rubahlah dengan tanganmu. Jika kalian tidak sanggup, maka rubahlah dengan lisanmu. Dan kalau tidak sanggup juga dengan lisan, maka rubahlah dengan hati kalian. Dan itu adalah selemah-lemah iman.”

Jadi kalau dengan adanya berbagai bencana yang terjadi ini, kita sudah tidak sanggup membantu korban bencana dengan harta, tenaga, pikiran, atau sekedar meneteskan airmata, tapi janganlah matikan hati kita untuk terus peduli dan empati. Jangan biarkan Imun Bencana tumbuh subur dan bersemayam di hati kita. Karena hati yang masih peduli dan empati adalah benteng terakhir yang masih kita miliki. Dan meskipun itu juga simbol selemah-lemah iman kita !

14 January, 2007

ESENSI SEDEKAH

Pada sebuah pelatihan penggalangan dana masyarakat, seorang peserta ada yang bertanya : “Berapakah jumlah potensi sedekah masyarakat Indonesia ? Saya menjawab : “Kalau secara sederhana, dapat saya katakan, bisa mencapai sepertiga dari jumlah total penghasilan masyarakat Indonesia.” Mengapa demikian ? Karena pada dasarnya jumlah potensi sedekah masyarakat bersifat lentur, sangat tergantung kepada tiga faktor, yaitu pandangan atau keyakinan masyarakat, situasi atau kondisi yang sedang terjadi dan besar dana yang berputar di masyarakat.

Sebagai contoh, seorang muslim punya kewajiban dasar atas penghasilan dan hartanya yaitu mengeluarkan zakat 2,5 persen, tapi apabila ternyata setelah membayar zakat ada tetangganya kelaparan yang bisa berakibat kematian, maka atas diri seorang muslim yang sudah mengeluarkan zakat tersebut, muncul kewajiban infak guna menolong tetangganya. Sehingga kalau terus muncul “kebutuhan” untuk menolong orang lain, maka besar dana yang didermakan orang tersebut juga terus meningkat.

Peningkatan besar sedekah masyarakat dapat kita lihat pada minggu-minggu awal terjadi bencana Tsunami di Aceh. Pada saat itu, sebagian besar masyarakat Indonesia telah berubah menjadi masyarakat sedekah. Di hampir semua perempatan jalan strategis kota-kota besar, masyarakat menghimpun sumbangan. Berbagai lembaga, perusahaan dan kelompok masyarakat mengumpulkan sedekah. Waktu itu, banyak keperluan masyarakat telah bergeser atau diubah untuk membantu masyarakat yang menjadi korban tsunami.

Sehingga secara individual, dapat kita sebut bahwa esensi dari bersedekah adalah mengubah sebagian kebutuhan hidup yang tidak penting menjadi sedekah. Esensi berderma adalah menukar keperluan kita (yang asesoris) untuk menolong orang lain. Substansi sedekah adalah mendahulukan kepentingan lain dari keperluan kita yang tidak penting guna meraih kemuliaan di hadapan Allah SWT.

Kalau setiap orang memiliki kesadaran untuk “mengerem” sedikit saja keperluan asesorisnya dan ditukar dengan bentuk lain yang lebih strategis dan bermanfaat bagi umat, maka hasilnya luar biasa. Sebagai contoh, kalau setiap orang yang hendak belanja permen bergetar tangannya, dan ingat bahwa uang untuk membeli permen itu bisa digunakan untuk sedekah. Maka dalam setahun, tidak kurang dana 200 Milyar belanja permen orang Indonesia bisa dialihkan untuk mendirikan dan membiayai operasional dua rumah sakit gratis untuk orang miskin. Atau setara dengan mendirikan dan membiayai operasional 20 sekolah unggulan cuma-cuma untuk mereka yang tidak mampu.

Dalam kaitan mendahulukan urusan lain atau orang lain ini, diceritakan bahwa pada suatu hari di Madinah Rasulullah kedatangan tamu. Setelah tamu tersebut mengeluhkan masalah dan kesulitan hidupnya, maka Rasulullah menanyakan kepada istri-istri beliau : “Adakah sesuatu untuk menjamu tamuku ?” Ternyata jawaban dari istri-istri Rasulullah adalah :”Tidak ada, kecuali air.” Akhirnya Rasulullah bertanya kepada para sahabat yang sedang berkumpul dalam suatu majelis : “Siapakah di antara kalian yang bersedia menjamu tamuku ?” Seorang sahabat dari golongan Anshor menjawab “Saya ya Rasulullah !” Akhirnya tamu itu dibawa ke rumah sahabat Anshor tersebut. Kepada istrinya sahabat Anshor itu berkata :”Muliakanlah tamu Rasulullah itu. Hidangkan apa saja yang engkau punya.” Istrinya menjawab :”Aku tidak mempunyai sesuatu apapun untuk menjamunya, kecuali jatah makan anak-anak kita malam ini.” Akhirnya mereka menghidangkan jatah makan anak-anaknya kepada tamu tersebut. Dan sebagai akibatnya mereka semalaman harus menenangkan anak-anaknya yang mengeluh lapar. Esok harinya saat mengantar tamu tersebut, Rasulullah berujar : “Sungguh Allah mengagumi perbuatanmu terhadap tamumu semalam”. Saat itu turunlah wahyu Surat Al-Hasyr : 9 yang artinya : “Dan mereka mengutamakan orang lain atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Mereka adalah orang-orang yang beruntung.”

DALAM TUBUH SEHAT ADA JIWA SAKIT

Mungkin tak banyak orang yang mengenal Sulastri, wanita separuh baya. Sudah tujuah tahun ia mengidap tumor ganas di keningnya. Tumor yang sebesar apel merah tepat di dahinya itu, selalu menghalanginya ketika bersujud dalam shalatnya. Derita tumor itu ditanggungnya bertahun-tahun karena tak kuasa untuk memeriksakannya ke dokter. Jangankan untuk mengobati penyakit, untuk makan sehari-haripun ia merasa tidak cukup.
Coba bandingkan dengan Yanti, gadis muda yang beruntung memiliki keluarga berada. Jerawat kecil yang baru mulai tumbuh di pipi saja, siang malam membuatnya tidak bisa tenang. Berbagai ramuan kesehatan, sampai aneka obat dicobanya untuk menghilangkan jerawatnya itu. Tidak lupa pula dikunjungi dokter spesialis kulit terhebat di kotanya, meski ia harus menanggung biaya yang tidak sedikit. Bagi Yanti, jerawat di pipi adalah malapetaka besar pada masa remajanya. Beruntung bagi Yanti memiliki orang tua kaya, biaya kesehatan asesoris yang besar pun tidak jadi masalah. Tapi bagi Sulastri, Tumor yang sudah mengancam kehidupannyapun seperti tak kuasa menggerakkannya untuk menikmati layanan kesehatan. Sungguh malang nasib Sulastri.
Paradoks kehidupan seperti dialami Sulastri dan Yanti adalah potret kehidupan kita sehari-hari. Pembengkakan biaya kesehatan yang harus ditanggung masyarakat bagai tak berkesudahan. Entah memang karena alasan semakin mahalnya biaya bahan baku farmasi, biaya proses produksi yang semakin tinggi, meningkatnya biaya pendidikan menjadi dokter atau karena besarnya bonus dan fasilitas yang harus diberikan apotik dan perusahaan obat kepada dokter. Ujungnya pasienlah yang harus menanggung semua itu. Bagi masyarakat yang mampu, mahalnya biaya kesehatan mungkin tidak berpengaruh banyak. Tapi bagi masyarakat menengah bawah, sungguh ini terasa sangat memberatkan.
Tentu saja pemerintah telah berusaha keras mencoba mengatasi masalah ini. Misalnya dengan memberikan layanan kesehatan murah di puskesmas dan rumah sakit-rumah sakit pemerintah. Tapi masalahnya, banyak layanan tersebut yang dilakukan dengan seadanya. Jumlahnya pun masih terbatas, sehingga pasien setiap hari harus antri berkepanjangan dalam jumlah jam praktek yang semakin menipis. Tidak sedikit kejadian, sejumlah empat atau lima pasien diperiksa secara “kolektif” oleh satu dokter sekaligus dalam satu panggilan periksa. Tanpa ulasan senyum sama sekali, pelayanan kesehatan berombongan ini ditempuh untuk mempercepat proses pelayanan. Mungkin karena dokternya masih banyak urusan, termasuk praktek di tempat lain yang bayarannya lebih mahal.
Pemerintah pun telah mengembangkan obat generik untuk menekan laju kemahalan obat. Tapi bagi sementara kalangan, penggunaan obat generik dianggap sebagai penurunan kelas dan prestise. Dokter yang menulis resep untuk obat generik juga seringkali penuh pandangan iba kepada pasien yang meminta obat generik. Seolah-olah pengguna obat generik adalah kelas masyarakat yang perlu dikasihani. Tentu saja ini semua membuat setiap orang yang ingin meminta dibuatkan resep obat generik menjadi tidak nyaman, kecuali bagi mereka yang sangat terpaksa.
Untuk mengurangi tekanan derita masyarakat menengah bawah, sudah saatnya apabila pemerintah membebaskan biaya layanan kesehatan di seluruh puskesmas di Indonesia yang disertai dengan peningkatan kualitas layanan bagi semua pasien. Kebijakan ini juga merupakan perwujudan puskesmas sebagai layanan kesehatan dasar bagi masyarakat menengah bawah. Pemerintah juga harus membebaskan biaya layanan kesehatan di semua rumah sakit umum bagi pemilik kartu Gakin (Keluarga Miskin) untuk semakin memberikan kemudahan bagi orang miskin dalam menikmati layanan kesehatan.
Akhirnya kebijakan ini juga harus didukung oleh semua pihak, khususnya kalangan menengah atas. Misalnya dengan turut serta dalam pendirian dan pengembangan unit-unit kesehatan bermutu bagi orang miskin tanpa memungut biaya. Kita patut bersyukur karena kita mampu menikmati layanan kesehatan, sehingga badan kita menjadi sehat. Tapi tidak cukup badan kita sehat, kitapun harus harus memiliki jiwa yang sehat. Yaitu jiwa yang selalu peduli dengan nasib sesamanya yang kesulitan. Bukan sebaliknya, dalam tubuh kita yang sehat, tapi di dalamnya ada jiwa yang sakit.